Jumlah angkatan kerja di Indonesia yang merupakan lulusan diploma dan sarjana hanya 11% dari total seluruhnya. Sementara Malaysia sudah mencapai 22%. Menristekdikti, seperti dilansir dari kompas.com, menyatakan prihatin dengan kondisi tersebut sebab lapangan kerja bagi anak bangsa terancam direbut oleh warga negara tetangga. Oleh karena itu, beliau menambahkan, para rektor dan direktorat harus berjuang untuk meningkatkan jumlah lulusan sarjana dengan kualitas yang baik.

Keprihatinan Menristekdikti tersebut bukan tanpa alasan. Sebab, tingkat pendidikan memang berkorelasi dengan kualitas tenaga kerja. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Lubis (2014) dalam Jurnal Economia berjudul Pengaruh Tenaga Kerja, Tingkat Pendidikan Pekerja dan Pengeluaran Pemerintah untuk Pendidikan. Dalam penelitian tersebut tingkat pendidikan dilihat dari rasio jumlah penduduk yang lulus dari universitas dan diploma terhadap penduduk bekerja pada periode 2006-2012. Ditemukan bahwa tingkat pendidikan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal ini karena pendidikan memerankan fungsi untuk mengembangkan kemampuan dan mental dalam memasuki era kehidupan baru termasuk daya kompetitif dan employability (H. A. R. Tilaar, 2000). Artinya pendidikan mampu meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Dengan meningkatnya produktivitas tenaga kerja tentu akan tercapai pertumbuhan ekonomi bangsa yang semakin meningkat pula.

Tugas yang diberikan oleh Menristekdikti kepada para rektor dan direktorat untuk meningkatkan jumlah lulusan sarjana dengan kualitas yang baik pun tidak mudah untuk dilakukan. Meskipun minat anak bangsa, khususnya yang tinggal di daerah, cukup tinggi untuk belajar di universitas, namun “biaya” kerap menjadi kendala utama. Sehingga, bagi sebagian anak daerah kuliah di universitas masih belum menjadi prioritas. Atau dengan kata lain, belum semua kalangan mampu menjangkau pendidikan di perguruan tinggi karena permasalahan utama yaitu biaya.

Wajar jika masih banyak lulusan SMA sederajat yang belum bisa menjangkau pendidikan di universitas. Sebab, biaya kuliah memang masih cukup tinggi, terutama di universitas swasta. Sedangkan di perguruan tinggi negeri (PTN), biayanya memang relatif lebih rendah. Namun, kebanyakan PTN ternama biasanya hanya ada di kota-kota besar saja. Hal ini menjadi tambahan pertimbangan, sebab mahasiswa yang berasal dari luar kota akan membutuhkan biaya yang lebih tinggi untuk menyewa tempat tinggal seperti kos atau pondokan dan juga biaya hidup sehari-hari. Biaya kuliah, sewa kos, dan biaya hidup sehari-hari jika dijumlahkan akan mencapai nominal yang lebih besar jika dibandingkan dengan kuliah di dalam kota dan tinggal dengan orang tua. Dengan demikian, solusi yang harus dipikirkan untuk meningkatkan jumlah lulusan sarjana berkualitas baik adalah dengan memberikan fasilitas kuliah yang tidak memberatkan mahasiswa secara finansial. Terlebih di masa pandemi ini, di mana para warga banyak yang mengalami kesulitan ekonomi dan harus membatasi interaksi sosial. Maka, salah satu solusi yang dapat diaplikasikan adalah dengan mengimplementasikan pembelajaran jarak jauh secara online (daring).

Pada dasarnya, ide implementasi pembelajaran secara jarak jauh dan daring sudah dikenal sejak beberapa tahun yang lalu. Sayangnya, hal ini masih terkendala dengan persepsi masyarakat yang masih sulit menerima pembelajaran jarak jauh. Biasanya mereka beranggapan bahwa pembelajaran jarak jauh yang dilaksanakan secara daring itu tidak efektif dan menyulitkan. Namun sejak diberlakukannya keputusan pemerintah untuk belajar dari rumah guna mencegah penyebaran Covid-19, pembelajaran jarak jauh mau tak mau harus diimplementasikan. Pembelajaran jarak jauh yang kerap disebut elearning atau juga online learning (pembelajaran daring) semakin menjadi norma dan diterima oleh masyarakat. Dengan mempertimbangkan berbagai keuntungan dan sisi positifnya, sangat disarankan agar universitas dan institusi pendidikan dapat memanfaatkan momentum ini untuk mengimplementasikan pembelajaran jarak jauh secara penuh. Bahkan hingga nanti ketika pandemi sudah berakhir.

Pembelajaran jarak jauh yang sebenarnya bukan merupakan hal baru ini sudah diterapkan di beberapa negara seperti Amerika dan Inggris. Pada tahun 2012, sejumlah universitas di Inggris melaporkan adanya penurunan jumlah mahasiswa yang kuliah pada tahun tersebut sekitar 54.000 mahasiswa. Hal itu dikarenakan adanya peningkatan biaya kuliah pertahun sekitar 300%. Sehingga, universitas-universitas di Inggris termasuk Universitas Bristol, King’s College London, Lancaster, Birmingham dan St Andrews segera mengambil langkah untuk meluncurkan proyek perkuliahan online. Perkuliahan ini dirancang untuk dapat dilakukan melalui komputer, tablet, atau telepon pintar dengan koneksi internet agar dapat menjangkau lebih banyak mahasiswa dengan biaya yang lebih rendah. Proyek semacam ini juga dilakukan oleh beberapa universitas ternama di Amerika termasuk Universitas Harvard dan Stanford dan ternyata mampu menarik minat jutaan mahasiswa seperti yang diberitakan dalam bbc.com.

Lalu, apa yang membuat jutaan mahasiswa tersebut tertarik untuk mengambil perkuliahan online? Benarkah biaya program perkuliahan online lebih rendah dibandingkan dengan program perkuliahan tatap muka?

Isu mengenai biaya pembelajaran online memang sempat menjadi kontroversi. Berbagai penelitian kemudian dilakukan demi memperoleh jawaban yang relevan atas isu tersebut. Salah satunya sebuah studi yang dilakukan oleh William Bowen, seorang ahli ekonomi dan analis pendidikan terkemuka, yang membandingkan pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran online. Jenis pembelajaran online yang menjadi objek dalam penelitian tersebut adalah blended learning di mana pembelajaran dilakukan secara online namun tetap mengalokasikan waktu untuk pertemuan tatap muka. Bowen (2013) menyatakan bahwa biaya blended learning lebih hemat 36% sampai 57% jika dibandingkan dengan pembelajaran tatap muka penuh. Penghematan tersebut dikarenakan jumlah pengajar dan staff administrasi yang digunakan dalam program blended learning tidak sebanyak dalam program tatap muka sehingga pengeluaran institusi pun dapat diturunkan.

Lebih lengkap lagi, studi yang dilakukan oleh Battaglino, Haldeman, dan Laurans (2011) membandingkan pembelajaran tatap muka tradisional, blended learning, dan pembelajaran virtual secara penuh. Dalam studi tersebut dipaparkan bahwa biaya yang dibayarkan oleh mahasiswa kepada institusi atau universitas dialokasikan untuk biaya fakultas dan admin, konten pembelajaran, operasional sekolah, dan layanan mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk seluruh pembiayaan tersebut pembelajaran tatap muka tradisional rata-rata menghabiskan $10.000, blended learning menghabiskan $8.900, dan pembelajaran virtual penuh menghabiskan $6.400. Biaya tersebut adalah hitungan untuk permahasiswa selama menempuh pendidikan di institusi tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa pembelajaran online, baik blended learning maupun virtual penuh menghabiskan dana yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan pembelajaran tatap muka tradisional.

Berdasarkan bagan yang disajikan, alokasi yang paling banyak membutuhkan dana dalam pembelajaran tatap muka penuh adalah fakultas dan admin, disusul kemudian biaya operasinal sekolah. Hal ini karena dalam pembelajaran tatap muka penuh artinya pengajar dan staff atau karyawan yang dibutuhkan memang lebih banyak sehingga pengeluaran untuk pembayaran gajinya pun lebih banyak. Selain itu, Gedung dan fasilitas fisik lainnya yang dibutuhkan untuk melaksanakan pembelajaran pun akan semakin banyak seiring dengan semakin banyak pelajar atau mahasiswa yang diterima. Namun, sebaliknya untuk blended learning dan pembelajaran virtual penuh.

Dari pemaparan di atas, dapat diambil sebuah benang merah bahwa biaya pembelajaran jarak jauh yang dilakukan secara daring lebih rendah dibandingkan dengan biaya pembelajaran tatap muka penuh. Kembali pada permasahalan di awal, yaitu untuk meningkatkan jumlah angkatan kerja lulusan diploma dan sarjana namun dengan tidak memberikan beban finansial kepada mahasiswa, maka program pembelajaran jarak jauh secara daring ini sangat recommended untuk diimplementasikan. Keuntungan implementasi pembelajaran jarak jauh terutama adalah biaya kuliah yang dapat ditekan jauh lebih rendah, namun dapat menambah kapasitas jumlah mahasiswa lebih banyak, tanpa perlu menambah staf secara signifikan di universitas tersebut. Pada akhirnya pemasukan universitas akan lebih baik, karena jumlah mahasiswanya dapat meningkat lebih banyak tanpa perlu penambahan ruangan fisik ataupun penambahan staf secara drastis.

Sebuah inovasi baru berupa implementasi pembelajaran jarak jauh di masa pandemi ini dilakukan oleh Southern New Hampshire University di Amerika. Southern New Hampshire University (SNHU) adalah universitas swasta yang digelari “Most Innovative” oleh U.S. News & World Report. Kampus ini melayani sebanyak 130 ribu mahasiswa dari seluruh dunia. SNHU akan mulai melakukan implementasi pembelajaran daring secara penuh di tahun 2021. SNHU akan menawarkan 3 macam pilihan perkuliahan yaitu:

  1. Pembelajaran daring penuh: semua mata kuliah dilaksanakan secara daring dengan pilihan dilakukan secara live di kampus.
  2. Pembelajaran campuran: semua mata kuliah dilakukan daring, dengan tambahan sesi tatap muka dari staf pengajar.
  3. Berbasis proyek: mahasiswa akan mengambil mata kuliah melalui mekanisme berbasis proyek dengan mentoring dan bantuan akademis lainnya.

Menariknya, SNHU menawarkan program tersebut dengan biaya kuliah yang jauh lebih murah 61% dari biaya kuliah di tahun sebelumnya. Tentu hal ini sangat menarik bagi calon mahasiswa yang ingin melanjutkan belajar di universitas namun terkendala biaya.

Bagaimana dengan universitas-universitas di Indonesia?

Sebenarnya, beberapa universitas di Indonesia sudah memiliki program pembelajaran daring sejak sekitar tahun 2014. Namun, kurang populer di kalangan masyarakat. Padahal, jika melihat bagaimana potensi pembelajaran daring dalam meningkatkan jumlah mahasiswa atau angkatan kerja lulusan diploma dan sarjana, program ini perlu dipopulerkan di kalangan masyarakat. Akan lebih baik jika ada lebih banyak universitas dan institusi pendidikan yang memberikan fasilitas pembelajaran daring sehingga bisa lebih banyak menjangkau mahasiswa di seluruh pelosok negeri dan bahkan dunia.

Keresahan tentang jumlah angkatan kerja di Indonesia yang baru mencapai 11% lulusan sarjana dan diploma kemudian memberikan PR baru bagi institusi pendidikan. Jumlah mahasiswa beserta kualitasnya harus ditingkatkan. Jika lebih banyak mahasiswa yang dapat dijangkau oleh universitas dan institusi pendidikan, maka jumlah angkatan kerja dengan lulusan diploma atau sarjana akan meningkat juga. Hal ini akan berdampak positif pada produktivitas kerja dan pertumbuhan ekonomi bangsa Indonesia. Namun, kendala untuk menarik minat mahasiswa mayoritas adalah pada biaya yang masih tergolong tinggi. Artinya kampus harus memberikan program pembelajaran yang tidak memberatkan mahasiswa secara finansial.

Seperti pemaparan di atas, hasil studi menemukan bahwa biaya pembelajaran jarak jauh secara daring memang terbukti lebih murah dibandingkan dengan pembelajaran tatap muka penuh. Selain itu, pembelajaran jarak jauh juga ternyata mampu menarik lebih banyak mahasiswa. Dengan demikian, implementasi pembelajaran jarak jauh oleh universitas dan institusi pendidikan sangat direkomendasikan guna menjangkau lebih banyak mahasiswa.