Pernahkah Anda berpikir mengapa seorang Beethoven, Chopin atau Mozart menjadi pianis-pianis terkemuka yang karya-karyanya tetap menjadi inspirasi hingga sekarang ini? Yang jelas ada satu persamaan yang mendasar diantara mereka. Belajar keras, terus mencoba dan berpikir positif! Para pianis terkenal tersebut. Mereka menguasai segala teknik dalam piano secara bertahap mulai dari yang paling dasar sampai level dengan tingkat kesulitan paling tinggi hingga mereka mahir dan menelurkan karya-karya yang dikenang banyak orang. Dan tentu saja dibutuhkan waktu yang tak singkat untuk menjadi seseorang yang berpredikat master seperti mereka, bukan?

Metode belajar secara bertahap dari yang paling dasar hingga tingkat lanjut seperti itulah yang merupakan inti dari mastery learning. Layaknya para master tersebut, pembelajaran mastery juga bisa diterapkan dalam bidang pendidikan. Seperti diketahui bahwa permasalahan pokok pendidikan adalah kesulitan peserta didik dalam menguasai materi atau mata pelajaran baik itu pada tingkat sekolah dasar hingga level yang lebih tinggi seperti universitas.

Implementasi Mastery Learning oleh Khan Academy

Khan Academy, sebagai sebuah platform media pembelajaran online terkemuka diketahui telah berhasil membantu banyak peserta didik dari seluruh penjuru dunia yang kesulitan dalam memahami, menyerap pelajaran serta mengerjakan tugas yang mereka terima di bangku sekolah maupun kampus. Salman “Sal” Khan sebagai pendiri Khan Academy menjelaskan bahwa faktor penting penyebab mengapa peserta didik zaman sekarang kesulitan dalam menyerap pelajaran adalah bukan karena mereka tidak bisa memahami, menyerap atau mengerjakan tugasnya. Namun lebih disebabkan oleh karena adanya kesenjangan yang terakumulasi antara peserta didik dan proses pembelajaran itu sendiri. Ada ketidakpahaman yang menumpuk dalam diri mereka karena kesalahan proses pembelajaran yang mereka alami dan terima. Alhasil, para peserta didik itu pun menjadi takut ketika akan mempelajari sebuah mata pelajaran atau materi tertentu. Hasilnya, terbentuklah stigma dan mosi tidak percaya kepada diri sendiri.

Ketakutan-ketakutan dan anggapan-anggapan negatif seperti inilah yang membuat lambat laun seseorang tumbuh dalam rasa tidak suka terhadap pelajaran tertentu yang tidak bisa atau sulit dikuasainya. Bila pada tingkat dasar saja mereka sudah tidak menyukainya, maka bisa dibayangkan bagaimana frustasinya mereka ketika sudah masuk ke topik dengan level kesulitan yang lebih tinggi dan kompleks.

Oleh karena itulah pembelajaran ala mastery learning seperti yang diterapkan Khan Academy sangat diperlukan agar seseorang tidak lagi merasa nightmare dalam belajar dan mengerjakan tugas.

Tahapan-tahapan Mastery Learning

Beberapa tahapan mastery learning yang berhasil diterapkan Khan Academy  kepada para peserta didiknya adalah sebagai berikut.

  • Peserta didik diberikan waktu dan kecepatan tertentu sesuai kemampuan mereka dalam memahami suatu mata pelajaran secara penuh. Dalam mastery learning, poin ini didasarkan pada keyakinan bahwa setiap orang memiliki kecepatan penyerapan yang berbeda satu sama lain dalam menerima mata pelajaran
  • Peserta didik dapat mengulang-ulang kembali materi yang telah dipelajarinya secara mandiri hingga mereka benar-benar memahami, misalnya melalui bantuan slide presentasi, modul atau penjelasan guru dalam sebuah video yang interaktif dan menarik.
  • Peserta didik bisa mendapatkan immediate feedback saat jawaban dari tugas yang mereka selesaikan salah. Jadi, mereka tidak akan tenggelam dalam ketidaktahuan mengapa jawabannya salah dan proses mastery pun akan menjadi cepat terlaksanakan.
  • Peserta didik akan mendapatkan materi yang telah terbagi dalam beberapa modul yang terpisah satu sama lain. Misalnya, guru memecah suatu materi menjadi sepuluh modul atau bagian
  • Peserta didik akan diberikan pemahaman bahwa setiap modul tersebut memiliki ambang batas kelulusan, misalnya 75% atau 80%. Guru pun akan menjelaskan bahwa bila siswa dapat mencapai ambang batas kelulusan suatu modul maka ia baru diperbolehkan mempelajari serta menjawab tugas pada modul selanjutnya
  • Jika belum mencapai ambang batas suatu modul, maka peserta didik harus terus berkutat di modul tersebut secara mandiri, hingga ia benar-benar mampu mencapai ambang batas kelulusan bahkan melebihinya
  • Peserta didik akan memiliki lembar kerja serta tutor sendiri dalam mengerjakan tugas mereka hingga benar-benar tuntas dan dikuasai

Perbedaan Mastery Learning dan Traditional Learning

Mengingat keberhasilan Khan Academy dalam menerapkan mastery learning, maka sudah terbukti bahwa metode ini lebih relevan dibandingkan model akademik tradisional untuk diterapkan pada pendidikan zaman sekarang. Lalu, apa perbedaan mastery learning dengan akademik tradisional? Mengapa model ini bisa menjadi solusi tepat bagi para peserta didik yang mengalami kesulitan belajar dibandingkan model tradisional yang masih diterapkan hingga sekarang? Tabel dibawah ini menunjukkan perbedaan signifikan antara mastery learning dan traditional learning.

Mastery Learning Traditional Learning
Memahami pelajaran tidak terbatas oleh waktu Peserta didik memiliki waktu terbatas dalam memahami pelajaran
Materi bisa diulang-ulang secara mandiri Tergantung pada guru yang memberikan penjelasan
Ada ambang batas kelulusan, jadi kalau peserta didik tidak bisa mencapai ambang batas tersebut maka harus diulang kembali Tidak ada ambang batas. Selesai tes, guru langsung melanjutkan materi tanpa melihat apakah anak didik sudah benar-benar memahami atau tidak
Immediate feedback bagi siswa yang memiliki jawaban salah sehingga mereka langsung mengetahui apa jawaban yang benar Tidak ada immediate feedback, sehingga siswa harus mencari sendiri mengapa jawabannya salah
Materi dipecah dalam beberapa modul atau bagian Modul utuh atau tidak terpecah dalam beberapa bagian
Tiap modul diberikan ambang batas lulus jadi jika seseorang belum mampu melewati ambang batas modul tertentu maka ia tidak bisa melanjutkan ke modul selanjtnya Tidak ada ambang batas kelulusan, jadi jika seseorang hanya menyerap 20% diantara orang lain yang mampu menyerap hingga 75% atau bahkan 90%, guru tetap melanjutkan materi

Selain alasan-alasan diatas, kelebihan mastery learning yang lain adalah bahwa pembelajaran ini dapat mengubah dan memperkuat pola pikir peserta didik menjadi lebih kuat daripada sebelumnya. Mereka akan lebih positive thingking kepada diri sendiri sehingga setiap kegagalan yang didapatkan akan menjadi “cambuk” agar lebih tekun lagi dalam mengulang pelajaran hingga benar-benar menguasainya.