Sejak tahun 2019 generasi baru yang dikenal dengan generasi Z mulai banyak memasuki dunia kerja. Kehadiran Gen Z di dunia kerja akan menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan. Sebab mereka memiliki karakteristik dan orientasi dunia kerja yang lebih unik dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

Siapakah Generasi Z dan bagaimana tantangan bagi perusahaan?

Generasi Z (Gen Z) adalah  generasi yang lahir pada sekitar tahun 1995-2010. Di kawasan Asia-Pasifik generasi ini akan mencapai seperempat dari total populasi pada tahun 2025. Dengan demikian jumlahnya di dunia kerja pun terus meningkat dan diperkirakan akan mencapai 30% pada tahun 2030.

Gen Z adalah generasi pertama yang benar-benar tumbuh di era digital dan teknologi yang sangat maju sehingga terbiasa dengan teknologi dan komunikasi digital. Mereka menyukai lingkungan kerja yang fleksibel dan inklusif dengan tuntutan karir yang tinggi. Survey LinkedIn menemukan 76% dari generasi tersebut percaya bahwa belajar adalah kunci kesuksesan mereka. Oleh sebab itu, generasi ini memilih untuk bertahan bekerja di perusahaan yang berinvestasi pada pengembangan karir dan skill karyawan yang biasanya dikemas dalam program pelatihan.

Bagi perusahaan profesional, pelatihan dan pengembangan skill karyawan adalah salah satu strategi penting untuk retensi tenaga kerja dan sekaligus meningkatkan laba.  Namun, kendala jadwal kerja karyawan yang padat dan biaya yang terlalu tinggi kerap kali menjadi kendala. Kemudian bertambah lagi tantangan baru dengan hadirnya Gen Z di dunia kerja yang lebih menyukai model pembelajaran yang memberikan akses kemandirian dan self-directed.

Meskipun demikian, akan ada solusi untuk setiap tantangan dan permasalahan. Salah satu solusi untuk permasalahan tersebut adalah dengan menerapkan personalized learning yang efektif terlebih untuk para generasi Z. Lalu, apa yang dimaksud dengan personalized learning dan bagaimana keefektifannya bagi generasi Z? Berikut pembahasannya.

Apa yang dimaksud dengan personalized learning?

Personalized learning atau pembelajaran yang dipersonalisasi adalah teknik pengajaran yang bertujuan untuk membantu pendidik, tutor, dan instruktur mengidentifikasi kebutuhan, minat, dan kemampuan unik seorang pelajar untuk membuat desain pembelajaran yang disesuaikan untuk mengakomodasi mereka. Hal ini karena setiap orang memiliki kebutuhan dan kecepatan belajar yang berbeda. Personalized learning dapat dikemas dengan berbagai metode mulai dari pembelajaran adaptif dan campuran hingga berbasis proyek. Metode atau model apapun yang digunakan, yang penting adalah memberikan akses pengalaman, pengetahuan, dan preferensi pembelajar untuk memandu proses pembelajaran. Dengan cara ini peserta didik atau pelatihan akan memperoleh pengetahuan dengan lebih cepat dan efisien dan bisa mempertahankannya lebih lama. 

Bagaimana keefektifan personalized learning untuk Gen Z?

Generasi Z memiliki 3 karakteristik khusus dalam memandang pembelajaran. Karakteristik tersebut adalah belajar sesuai permintaan (on-demand), belajar dengan melakukan (learning by doing), dan belajar secara kolaboratif. Karakteristik tersebut membuat personalized learning efektif untuk Gen Z.

Terkait dengan belajar on-demand, Gen Z terbiasa dengan kemudahan dalam mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Dengan menggunakan Google, aplikasi market place, hingga sosial media, mereka bisa mendapatkan berbagai informasi hanya dalam beberapa detik saja. Kemudahan inilah yang kemudian berpengaruh pada cara pandang mereka terhadap pembelajaran yaitu sesuatu yang dapat diakses dengan mudah menggunakan teknologi. Mereka juga dikenal lebih senang mempelajari sesuatu dari video dari pada harus membaca artikel yang sangat panjang. Durasi yang singkat dan tampilan visual yang menarik sangat membantu mereka untuk belajar secara mandiri (self-directed learning).

Gen Z juga terbiasa dengan learning by doing. Mereka bisa berkomunikasi dengan orang lain dari seluruh belahan dunia, menerapkan informasi yang didapatkan, dan memperbaiki kesalahan dari informasi lainnya. Kemampuan untuk menggabungkan banyak informasi dari berbagai sumber ini kemudian menciptakan pengalaman belajar yang unik. Gen Z beranggapan bahwa memperoleh pengetahuan sama dengan memperoleh pengalaman baru.

Belajar secara kolaboratif juga menjadi karakteristik lain dari generasi Z. Dengan kecanggihan teknologi mereka terbiasa untuk berbagi dan menggali informasi atau pengetahuan dengan orang lain, baik satu generasi maupun dengan generasi sebelumnya. Kebiasaan ini juga kemudian berpengaruh pada Gen Z dalam memandang pembelajaran sebagai aktivitas yang menyenangkan untuk dilakukan secara kolaboratif menggunakan teknologi.

Kesimpulan

Setelah membahas tentang karakteristik Gen Z dalam memandang pembelajaran, dapat disimpulkan bahwa personalized learning akan menjadi teknik yang efektif untuk para generasi Z. Ketika karyawan Gen Z memasuki dunia kerja, era baru dimulai dalam pelatihan karyawan. Generasi muda yang tumbuh di dunia dengan kecepatan internet tinggi dan konektivitas konstan ini menyadarkan kita akan perlunya pembelajaran praktis di tempat yang mendukung kolaborasi dan pertukaran ide. Dengan memanfaatkan pembelajaran yang dipersonalisasi untuk Gen Z, kita dapat membuka potensi unik mereka dan membuka jalan bagi tenaga kerja yang lebih efisien dan inovatif daripada sebelumnya.

Terkait dengan penggunaan teknologi untuk personalized learning, platform pembelajaran online khususnya LMS adalah yang paling disarankan. LMS dapat memudahkan kita dalam melakukan manajemen pembelajaran dan membuat berbagai format konten belajar yang sesuai dengan kebutuhan Gen Z. Namun, pastikan Anda memilih LMS yang tepat agar benar-benar memberikan kemudahan dan tidak justru menjadi penghambat program pelatihan. Katalis App. adalah LMS yang proven dan sangat direkomendasikan karena aplikasi ini on cloud, berbasis open edx, tanpa server, tanpa tim IT, dan tentunya dapat diakses dengan segera. Untuk informasi lebih lanjut mengenai Katalis.App hubungi kami di sini.

Dapatkan Update Artikel Kami!

* indicates required